HOAX - Cerpen (Cerita Pendek)


HOAX

                “Internet dan media sosial sudah menjadi kebutuhan utama bagi kita semua, separuh kehidupan kita dihabiskan di dunia maya. Kata banyak orang, itu merupakan rancangan dari orang-orang zionis untuk menjauhkan kita dengan Allah. Jadi harus kita lawan! Kata orang juga, kita harus melawan itu dengan senjata yang sama dengan mereka, yaitu media sosial sebagai alat untuk berdakwah.”
                Itulah yang aku sampaikan kepada dua aparat yang menginterogasiku karena status yang aku sebar di akun facebookku. Katanya, aku didakwa atas tuduhan penyebaran berita bohong atau hoax. Sungguh rezim ini sudah jauh menyimpang dari ajaran Tuhan. Masa orang menyampaikan kebenaran malah di kriminalisasi, kan ini bagian dari dakwah, pikirku.
                “dari mana bapak mendapatkan informasi tersebut ?” tanya seorang aparat, perempuan yang bahkan tidak menutup auratnya.
                Sungguh fitnah akhir zaman, bagaimana bisa seorang yang tidak mematuhi perintah Tuhannya jadi penegak hukum di dunia ini. Kenapa sekarang hukum Tuhan kalah dibandingkan hukum dunia ? Na’udzubillah. Aku tidak akan gentar menghadapi cobaan ini. Mereka hanyalah orang-orang yang jauh dari Tuhan, sedangkan aku adalah pembela Tuhan. Mereka akan jadi bahan bakar neraka sedangkan aku ada di surga.
                “kamu pikir aku ini pembohong ? tidak penting darimana asalnnya, yang penting itu berita baik untuk masyarakat. Bukankah kita diperintahkan untuk ‘sampaikanlah walau satu ayat’ ? kita berdosa lho kalau tidak menyampaikannya. Bertaubatlah kalian sebelum terlambat” jawabku dengan yakin.
                “maaf bapak, tapi ini untuk keperluan investigasi. Kalau bapak dapat bekerjasama dengan baik maka kami juga akan bersikap baik. Jadi, darimana bapak mendapatkan informasi tersebut ?” jawab aparat itu.
                Apa ? aku bekerja sama dengan mereka ? tidak akan! Aku tidak akan bekerja sama dengan musuh-musuh Tuhan. Tapi tak apalah, akan aku sampaikan darimana aku dapat info itu.
                “aku dapat info itu dari grup WA pengajian. Aku tidak kenal siapa pengirimnya” jawabku.
                “grup apa itu bapak ? siapa yang membuat grupnya ?” tanya aparat yang lainnya.
                “Grup itu aku dapat dari facebook juga, ada yang kasih link jadi aku langsung gabung aja. Isinya berbagi info agama sama pengajian. Aku udah gabung sekitar sebulan yang lalu. Aku sendiri gaktau siapa yang buat grupnya” jawabku lagi
                “boleh bapak jelaskan kepada kami bagaimana kronologinya dari bapak dapat pesan tersebut sampai bapak menyebarkannya ke facebook dan sampai ditangkap pihak berwajib” tanyanya lagi, sungguh aparat yang sangat rewel.
                “waktu kayak biasa aku lagi buka-buka WA karena tidak ada kerjaan, ternyata ada chat di grup itu yang isinya infomasi yang menurutku penting. Terus di akhir info ada pesan supaya jangan hanya berhenti di aku. Katanya harus disebarkan untuk kebaikan umat, kalo tidak disebarkan maka aku berdosa karena tidak menyampaikan amanat dan tidak mencintai agamaku sendiri. Karena aku tidak ingin berdosa, langsung saja aku sebar ke semua media sosialku. Sampe akhirnya viral di facebook. Beberapa hari kemudian ada polisi dateng ke rumah katanya aku ditangkap gara-gara berita hoax” jelasku, sungguh ku ingin interogasi ini cepat selesai.
                “apa bapak sudah pastikan informasi tersebut benar ?” tanyanya lagi
                Pertanyaannya singkat tapi ini yang paling membuatku bingung. Aku sebenarnya tahu jawabannya, tapi entah kenapa aku sangat berat untuk mengatakannya. Pertanyaan singkat itu ternyata menyadarkanku akan kesalahan yang telah aku lakukan. Aku telah menyebarkan informasi yang bahkan tidak aku ketahui kebenarannya. Baru kali ini aku menyadarinya. Kenapa aku terlalu gegabah dan ceroboh, apa susahnya tanya dulu sama pengirim pesan itu. Tapi, informasi tersebut kan pesan kebaikan, apa salahnya juga untuk disebarkan meskipun belum jelas kebenarannya.
                “maaf bapak, apa bapak sudah pastikan kebenaran informasi tersebut ?” tanya petugas itu menyadarkanku dari lamunan.
                “aku belum tahu” jawabku singkat, saat itu pikiranku sedang tidak menentu. Entah tindakanku benar atau tidak. Bahkan aku sudah berfikir yang tidak-tidak terhadap petugas yang menginterogasiku ini.
                “jadi bapak belum tahu ? kalau berita ini hoax, berita bohong ? berita ini sengaja disebarkan dengan masif oleh kelompok elite yang ingin mengadu domba bangsa kita. Kami sudah melakukan pengkajian terhadap berita ini. Bahkan kami sudah menghubungi semua pihak yang disebut dalam berita tersebut. Dan semuanya mengkonfirmasi bahwa isi dalam berita tersebut tidak benar. Saat ini kami sedang mendalami ‘otak’ dari keributan ini” jelasnya.
                Astaghfirullah, jadi selama ini aku tertipu, dan bodohnya kenapa aku juga menyebarkan berita itu. Berarti aku juga penipu ? pantas saja aku sampai ditangkap begini. Terus apa yang harus aku lakukan ?
                “sungguh aku tidak tahu Pak, Bu. Ampunilah aku Pak, Bu. Tolong jangan dipenjara.” Pintaku memelas.
                “terimakasih bapak sudah menjawab semua pertanyaan kami, setelah ini akan kami proses dan akan kami kabari keputusannya kepada bapak” jawabnya
                Peristiwa ini merupakan pengalaman yang tidak dapat aku lupakan. Aku ditangkap polisi hanya karena menyebarkan berita di facebook. Tapi ini menyadarkanku akan suatu hal. Bahwa di masa dimana media sosial menjadi semakin mudah, banyak orang yang menggunakannya untuk kepentingan pribadi dengan mengelabui masyarakat. Jadi, kita harus berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar, jangan mudah mempercayainya apalagi menyebarkannya tanpa memastikan terlebih dahulu kebenarannya.

Diat Anugrah, Solo 10 September 2019
               


Komentar